Feeds:
Pos
Komentar

Menikah vs Melajang

Melajang memang pilihan dengan seabrek alasan dan segunung latar belakang, dari yang masuk akal sampai yang tidak masuk akal, dari yang bisa diterima sampai yang mengada-ada, dari yang terdorong oleh pertimbangan syar’i sampai pertimbangan nafsu hewani, apa pun alasan dan latar belakangnya, judulnya tetap satu, muaranya tetap sama, tidak menikah alias membujang. Bahkan di zaman yang katanya modern ini, gaya hidup ini semakin menjadi tren yang membanggakan, orang tidak lagi risih menyandang jejaka lapuk atau perawan STW alisa setengah tuwa, dulu anak-anak muda menikah dalam kisaran umur di bawah dua puluh lima, namun saat ini, umur segitu masih terlalu dini untuk menikah, nunggu sampai kepala tiga bahkan empat.

Rada sulit memang mengendus kegelisahan dalam jiwa dan kegundahan dalam dada, sementara mereka yang memilih jalan ini secara lahiriyahnya tampak enak dan enjoy dengan kesendiriannya. Muncul pertanyaan, apa iya membujang itu ada nikmatnya?

Kayaknya sih demikian, tapi eits ntar dulu, saya katakan sepertinya. Bebas dan merdeka. [Bebas, kesannya menikah adalah penjara atau pasungan. Merdeka, kesannya menikah adalah penjajahan]. Dua kata yang sering dibanggakan oleh orang-orang yang memilih jalan hidup ini. Mau apa, ke mana, di mana? Tidak ada yang nggandoli, tidak ada yang bertanya dan mempersoalkan. Intinya bebas memilih dan melakukan tanpa perlu khawatir izin anu atau ani. Beda dengan orang yang menikah menurut mereka, dia harus ini dan itu dulu dengan istri atau suaminya saat hendak ini dan itu. Ribet dan repot.

Dari perasaan bebas dan merdeka inilah, lahir optimisme pada mereka bahwa urusan lainnya akan lebih lancar, bahkan di sebagian kalangan optimisme ini telah mengakar menjadi sebuah keyakinan. Tidak asing kalau ada yang bilang, “Pantes karirnya lancar, melambung, lha wong dia bujangan.”

Tapi nanti dulu, kita sering terjebak menilai orang dengan kaca mata diri sendiri, orang yang hidup membujang dengan karir meroket, kita kira dia hidup tenang, tenteram dan berbahagia, tetapi belum tentu bukan? Ya belum tentu, kalau Anda ingin membuktikan, silakan mencoba. Berani? Saya yakin tidak, karena kebahagiaan yang sepintas dari melajang hanyalah fatamorgana dan kamuflase. Di saat yang sama berbagai julukan dan gelar yang tidak terhormat tersandang di dadanya: perawan tua, jejaka tua, bujang lapuk, susah jodoh, master jomblo dan lain-lain. Memang enak?

Kalau kita mau jujur, tidak ada orang yang bebas merdeka dalam hidup, tanpa kecuali para pelajang, hidup selalu memiliki ikatan yang Anda suka atau tidak, parti terikat olehnya. Ada ikatan keluarga, tempat kerja, pertemanan dan norma masyarakat bahkan ajaran agama. Hidup ini juga tidak menyisakan ruang untuk kesendirian abadi sampai mati, karena hidup adalah sosial dan manusia adalah makhluk sosial. Lalu di mana letak bebas dan merdeka? Melajang membebaskan satu ikatan dari seseorang, tetapi tidak untuk seluruh ikatan.

Di sisi seberang, menikah. Tidak dipungkiri, menikah juga terkadang bukan memecahkan masalah secara keseluruhan, bahkan bisa jadi ia memicu masalah, sama dengan orang yang membujang, dia juga memiliki masalah. So dari sisi ini, apa enaknya membujang? Toh masalah tetap datang juga, artinya melajang bukan jalan berlari yang baik dari masalah. Hidup kok mau bebas dari masalah, terus mau ke mana? Mati? Justru ini masalah besar. Bukan matinya, tetapi apa yang sesudah mati.

Kembali ke masalah kita kawan, sama-sama menghadapi masalah. Menikah ada masalahnya. Melajang juga sama. Tetapi tetap menikah lebih nikmat, kalaupun kenikmatan melajang terletak pada kebebasannya, tetapi ia adalah kebebasan sunyi, kemerdekaan yang sepi. Sebaliknya menikah, ada masalah? Okey, tapi ada teman dekat yang benar-benar dekat dalam arti sebenarnya, namanya saja garwo, sigarane nyowo, belahan jiwa. Tetapi deman dekat kan bisa didapat dengan membujang? Tidak salah, tetapi sedekat apa? Sedekat-dekatnya teman dekat, toh Anda tidak tidur dengannya dalam satu selimut kan? Toh Anda pasti tidak selalu bersamanya kan?

Suami atau istrinya adalah teman dekat sejati, hakiki, dalam arti yang sebenar-benarnya, tempat kita menumpahkan segala apa yang layak ditumpahkan, teman bebas bercengkerama, ngobrol ngalor-ngidul, gurau bahkan sampai gulat segala, dengan itu kesucian diri terjaga, rasa cinta kasih tumbuh, sikap tanggung jawab berkembang. Di sisi yang sama, lihatlah para pelajang. Mau bercengkerama dan bergulat dengan siapa? Ada sih, yaitu kesepian dan kesunyian.

Betapa tenangnya hati Anda saat Anda curhat kepadanya, sambil meletakkan kepala di dadanya atau di pangkuannya, lalu Anda meremas jari-jemarinya atau memeluk pinggangnya. Duh nyaman dan damainya. Itu kalau dia adalah suami atau istri Anda. Kalau Anda membujang dan melakukannya kepada teman wanita atau laki-laki Anda, apa yang Anda dapatkan? Dosa kawan.

Dari sisi pandangan agama, saat pembujang tertatih meniti jalan agama, orang yang menikah telah mengisi separuh agamanya. “Barangsiapa menikah maka dia telah mengusai sepruh agamanya, maka hendaknya dia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separuh lagi.” Diriwayatkan oleh al-Hakim.

Rumah tangga memang bukan urusan sederhana atau remeh, tetapi di sana terdapat solusi dan penawar hati. Suami istri berbagi, berbicara tanpa sekat dan pembatas, apa adanya, bahkan bermesra dan bercinta yang mendatangkan kenikmatan, ketenangan dan pahala. Sekarang pertanyaannya, adakah semua ini dimiliki oleh pembujang? Yang ada adalah kesepian saat teman-temannya pergi, yang tertinggal adalah bantal dan guling, apa yang bisa dilakukan dengannya? Tidak salah kalau membujang itu merdeka tapi sepi dan sunyi? Mau? Jangan deh. Wallahu a’lam.
(Izzudin Karimi)

Oleh: Drs. Hartono Ahmad Jaiz
(Editor: Abdurrahman Nuryaman)

KHUTBAH PERTAMA :

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ:
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. اللهم صَل عَلَى مُحَمدٍ، وَعَلَى أله وَصَحْبِهِ وَسَلمْ.

Jama’ah Jum’at yang Dirahmati Allah
Sudah terlalu sering kita mendengar ungkapan keberatan dan syubhat-syubhat dari mereka yang tidak mau berhenti dari melakukan bid’ah, bahkan membela semua amal bid’ah mereka. Syubhat-syubhat dan berbagai pembelaan dikumandangkan lewat mimbar-mimbar ta’lim bahkan dimuat dalam berbagai media massa. Berikut sejumlah syubhat yang biasa mereka agungkan beserta jawaban Ahlus Sunnah terhadapnya.

Syubhat Pertama : Pemahaman mereka yang keliru terhadap Sabda Nabi Sallallahu ‘Alahi Wasallam :

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

“Barangsiapa yang memberikan suatu contoh perbuatan baik dalam Islam, maka dia mendapatkan pahala perbuatan tersebut dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi se-dikit pun dari pahala-pahala mereka. Dan barangsiapa yang mem-berikan suatu contoh perbuatan buruk, maka dia menanggung dosa Lanjut Baca »

Oleh: Drs. Hartono Ahmad Jaiz
(Editor: Abdurrahman Nuryaman)

KHUTBAH PERTAMA :

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. اللهم صَل عَلَى مُحَمدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلمْ.

Bid’ah menurut bahasa berasal dari akar kata بَدَعَ, yang memiliki makna dasar: Apa yang diadakan (dibuat) tanpa ada contoh yang mendahului.

Pecahan kata ini disebutkan dalam al-Qur`an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرضِ

“Allah Pencipta langit dan bumi” (Al-Baqarah: 117).

Kata بَدِيعُ artinya: Yang menciptakan tanpa ada contoh sebelumnya. Maka maksud ayat di atas adalah, Allah menciptakan langit dan bumi tanpa didahului suatu contoh apa pun.

Bid’ah menurut Syariat, sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah adalah, “Apa yang menyelisihi atau menyimpang dari al-Kitab, atau as-Sunnah, atau ijma’ as-Salaf ash-Shalih, baik dalam masalah akidah maupun ibadah.” (Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 18/346). Lanjut Baca »

Setiap hari Uqbah bin Amir Al Juhani keluar dan berlatih memanah, kemudian ia meminta Abdullah bin Zaid agar mengikutinya namun sepertinya ia nyaris bosan. Maka Uqbah berkata, “Maukah kamu aku kabarkan sebuah hadits yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab, “Mau.” Uqbah berkata, “Saya telah mendengar beliau bersabda:

يُدْخِلُ بِالسَّهْمِ الْوَاحِدِ ثَلَاثَةَ نَفَرٍ الْجَنَّةَ صَاحِبَهُ الَّذِي يَحْتَسِبُ

فِي صَنْعَتِهِ الْخَيْرَ وَالَّذِي يُجَهِّزُ بِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

وَالَّذِي يَرْمِي بِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالَ ارْمُوا وَارْكَبُوا

وَإِنْ تَرْمُوا خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَرْكَبُوا

“Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla akan memasukkan tiga orang ke dalam surga lantaran satu anak panah; orang yang saat membuatnya mengharapkan kebaikan, orang yang Lanjut Baca »

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw., beliau bercerita, “Sesungguhnya ada seorang Bani Israil yang memohon kepada Bani Israil lainnya untuk meminjaminya uang seribu dinar. Orang yang meminjamkan berkata, ‘Datangkanlah saksi-saksi. Aku ingin mempersaksikan peminjaman ini kepada mereka.’ Peminjam berkata, ‘Cukuplah Allah sebagai saksinya’. Orang yang meminjamkan berkata, ‘Datangkanlah seorang penjamin’. Peminjam berkata, ‘Cukuplah Allah sebagai penjamin.’ Orang yang meminjamkan berkata, ‘Kamu benar.’ Kemudian dia memberikan uang itu hingga tempo tertentu.

Peminjam uang pergi ke laut untuk memenuhi hajatnya. Kemudian dia merasa sangat membutuhkan perahu untuk mengantarkan uang pinjamannya yang sudah jatuh tempo pembayarannya. Namun, dia tidak menemukannya. Kemudian dia mengambil kayu dan melubanginya. Lalu dia memasukkan ke dalamnya uang seribu dinar berikut secarik tulisan yang ditujukan kepada pemilik uang. Kemudian melapisinya agar tidak terkena air. Lalu dia membawa kayu ke laut. Dia berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku telah meminjam uang seribu dinar kepada si Fulan. Dia meminta penjamin dariku, kemudian kukatakan bahwa cukuplah Allah sebagai penjamin, dan dia pun rela. Dia memintaku mendatangkan saksi, lalu kukatakan bahwa cukuplah Allah sebagai saksi, dan dia pun rela. Sesungguhnya aku telah berusaha untuk mendapatkan perahu yang akan kugunakan untuk mengantarkan uangku kepadanya, namun aku tidak mendapatkannya. Kini, kutitipkan uang itu kepada-Mu.’ Kemudian dia melemparkan kayu itu hingga tenggelam. Dia pun pergi. Walau demikian, dia tetap berusaha mencari perahu yang menuju ke negeri orang yang meminjamkan.

Kini, orang yang meminjamkan uang pergi untuk menanti. Barangkali ada perahu datang membawa piutangnya. Tiba-tiba dia menemukan kayu yang berisi uang itu. Dia membawanya pulang sebagai kayu bakar untuk istrinya. Tatkala dia membelahnya, dia menemukan uang dan secarik pesan. Di lain pihak, si peminjam pun datang juga membawa seribu dinar. Dia berkata, ‘Demi Allah, sebelum aku datang sekarang, aku senantiasa berusaha untuk mendapatkan perahu guna mengantarkan pinjaman kepadamu.’ Orang yang meminjamkan berkata, ‘Apakah kamu mengirimkan sesuatu kepadaku?’ Peminjam berkata, ‘Bukankah telah kuceritakan kepadamu bahwa aku tidak menemukan perahu, sebelum aku mendapatkannya sekarang ini?’ Orang yang meminjamkan berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah mengantarkan pinjamanmu yang kau taruh dalam kayu. Maka gunakanlah uangmu yang seribu dinar itu dengan baik.'”

dakwatuna.com – ”Bukan daging-daging unta dan darahnya itu yang dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya…” (Al-Hajj: 37)

Maha Agung Allah yang Menciptakan kehidupan dengan segala kelengkapannya. Ada kelengkapan pokok, ada juga yang cuma hiasan. Sayangnya, tak sedikit manusia yang terkungkung pada jeratan kelengkapan aksesoris.

Berkurbanlah, Anda akan menjadi yang paling kaya

Logika sederhana manusia kerap mengatakan kalau memberi berarti terkurangi. Lanjut Baca »

Teknologi, disatu sisi membawa manfaat yang besar bagi kehidupan umat manusia, karena memang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia selama hidup dunia. Bahkan sebenarnya bukan semata untuk kebutuhan selama hidup di dunia saja, kehidupan akhiratpun kita bisa persiapkan melalui usaha-usaha di dunia yang melibatkan teknologi. Tapi disisi lain, teknologi bisa mendatangkan musibah, kejahatan yang bukan saja dirasakan di dunia namun terbawa sampai ke akhirat, khususnya bagi mereka yang sengaja menyalahgunakan atau belum siap menerima kecanggihan teknologi dan belum memahami untuk apa teknologi itu ada. Bukanlah sebuah meriam yang berbahaya, melainkan lebih berbahaya orang yang ada di belakangnya. Akan sangat berbahaya apabila senjata tajam dijadikan mainan anak-anak balita yang belum tahu apa dan untuk apa barang itu digunakan. Namun bagi pasukan perang, keberadaan senjata sangat dibutuhkan dan menjadi fital keberadaannya untuk melawan musuh dan mempertahankan diri. Masyarakat kita, bukanlah masyarakat yang buta akan teknologi, meskipun tidak semuanya bisa memahami untuk apa teknologi itu ada, bagaimana penggunaannya dan apa manfaatnya baik untuk kehidupan duniawi ataupun akhirat. Melalui kemajuan teknologi, belakangan ini kita dicengangkan dengan berita-berita yang sangat memalukan, menyedihkan sekaligus merendahkan martabat manusia itu sendiri. Berbagai tindakan asusila terjadi di mana-mana dengan melibatkan teknologi. Gambar-gambar porno, adegan-adegan mesum seolah menjadi satu bagian dari keberadaan teknologi itu sendiri. Padahal bukan teknologinya yang salah, tapi siapa yang berada dibelakangnyalah yang seharusnya dipersalahkan. Situs-situs porno begitu mudahnya diakses melalui internet, gambar-gambar dan rekaman-rekaman adegan mesum begitu cepat tersebar melalui handphone. Disetiap waktu selalu ada berita baru tentang asusila yang memanfaatkan kecanggihan teknologi. Di semua tempat tindakan asusila terjadi, masih dengan memanfatkan teknologi, seoalah-olah keberadaan teknologi bisa dijadikan sebuah museum yang bisa mengumpulkan dan mengakses perbuatan mesum. Semua begitu mudah didapat dan disebarkan melalui kecanggihan teknologi. Jangan langsung menyalahkan teknologi, sebab teknologi itu diciptakan pada dasarnya untuk kemaslahatan umat manusia. Allah sendiri memerintahkan manusia untuk pandai membaca, melalui perintahNya Iqra’. Artinya kita diperintahkan untuk terus belajar, merenungkan ke agungan Nya melalui alam ini sebagai tanda kebesaranNya. Kita diperbolehkan membuat teknologi secanggih apapun dengan satu catatan bahwa itu dibuat untuk kemaslahatan hidup manusia dan tidak bertentangan dengan aturan-aturanNya. Kita tidak dilarang memanfaatkan adanya teknologi, hanya saja kadang kita yang belum siap menerima kemajuan teknologi sehingga sering kali teknologi itu kita gunakan justru untuk mengingkari keagunganNya, melawan perintahNya dengan melakukan kemaksiatan-kemaksiatan yang melibatkan teknologi. Saya sendiri tidak habis pikir, apa maksud dan alasan yang melatar belakangi mereka melakukan kemaksiatan-kemasiatan itu hingga akhirnya terpublikasikan. Keperluan dokumentasi pribadi seringkali menjadi motif mereka melakukan pendokumentasian gambar-gambar, adegan-adegan maksiat. Astaghfirullah! Dokumentasi yang aneh. Tidak adakah hal lain yang bisa dilakukan dengan kemajuan teknologi? Internet bukanlah melulu menyajikan situs-situs maksiat, banyak ilmu-ilmu dan pelajaran yang bisa diambil dari internet bahkan belajar agamapun bisa dilakukan melalui media yang satu ini. Hanphone berkamera bukanlah melulu untuk mengabadikan momen-momen mesum, banyak manfaat lain yang bisa diambil darinya. Teknologi bukanlah sebuah museum untuk mengumpulkan dan mempublikasikan kemaksiatan, tidakan mesum, gambar-gambar dan cerita-cerita tidak senonoh yang jelas-jelas dialrang oleh Agama apapun alasan dan caranya. Teknologi bisa digunakan untuk sarana mendekatkan diri kepada yang Maha Suci. Kita bisa belajar ilmu agama melalui internet, kita bisa menjaga silaturahmi melalui pesan-pesan mulia di hp, mendengarkan lantunan ayat-ayat suci melalui hp, mp3. Banyak sekali kebesaran Allah yang bisa kita temui di alam ini untuk kemudian kita abadikan dengan camera agar kita menyadari betapa besar kuasa Nya. Sungguh tak masuk akal, bila di antara kita justru memanfaatkan teknologi itu untuk mengajak, melakukan dan menyebarkan tindakan mesum. Sama seperti tidak masuk akalnya mereka yang menikmatinya.

eramuslim.com